Tenggelam
Melewati kotamu seakan melewati badai saja,
hatiku tenggelam.
Entah untuk alasan bahagia atau kesedihan,
kotamu, tetap memabukkan.
Saat berjalan dibatas senja yang menjelma jelaga tanpa cahaya
atau terlahir dipagi buta dengan bising kota tanpa jeda.
Lagi, hatiku tenggelam.
Entah untuk alasan bahagia atau kesedihan,
kotamu, masih istimewa dalam ingatan.
Ah, mungkin benarnya ia istimewa karena kau pernah ada.
Hidup, bernafas, menangis dan tertawa disana.
Seperti biasa satu hariku telah habis.
Esok, entah bagaimana kotamu akan berubah lagi,
Seperti hari ini, kotamu akan kukunjungi lagi untuk kutaburi mawar melati.
Llau mengenggelamkan diri pada rindu yang belum juga terganti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar