Home

Senin, 06 Januari 2025

Tenggelam

Tenggelam

Melewati kotamu seakan melewati badai saja,
hatiku tenggelam.
Entah untuk alasan bahagia atau kesedihan,
kotamu, tetap memabukkan.

Saat berjalan dibatas senja yang menjelma jelaga tanpa cahaya
atau terlahir dipagi buta dengan bising kota tanpa jeda.
Lagi, hatiku tenggelam.
Entah untuk alasan bahagia atau kesedihan,
kotamu, masih istimewa dalam ingatan.

Ah, mungkin benarnya ia istimewa karena kau pernah ada.
Hidup, bernafas, menangis dan tertawa disana.

Seperti biasa satu hariku telah habis.
Esok, entah bagaimana kotamu akan berubah lagi,
Seperti hari ini, kotamu akan kukunjungi lagi untuk kutaburi mawar melati.
Llau mengenggelamkan diri pada rindu yang belum juga terganti.

Senja Kelabu di Kotamu

Kotamu bermekaran bunga,
Kotamu gemerlap,
Kotamu, biru.
Dan aku mulai mencintai langitnya sejak kala itu.
Saat senjanya, malamnya, paginya, apalagi biru siangnya.
Aku mulai mencintai langit,
Memandangnyaa lamat-lamat, menerka-nerka warna dan corak apa yang bisa ia gambarkan lagi.
Aku mulai mencintai langit,
Senjanya, malamnya, paginya, juga biru siangnya.
Lalu perlahan mendung mengalihkan, kemudian turun hujan.
Bisaku, hanya mengulurkan tangan, seolah ingin menyentuhnya.
Dan tak pernah benar-benar tersentuh.
Apa lagi yang tidak aku ketahui tentangmu?
Hari ini kotamu diberkahi hujan, langit menghitam, dan aku masih menyukainya.
Katakan. Berapa wajah yang kau punya? berapa raut muka yang bisa kau lukiskan?
Dan aku akan mencintai semuanya.
Senja emasmu, gelap malammu, biru siangmu, mendung awanmu, juga pelangi sehabis tangismu.
Dan aku akan mencintai semuanya.
Aku pikir begitu,,,
Lalu senja disore itu mulai berbeda, saat kau lebih memilih sahabatku.
Langit kotamu,,
Seluruhnya menjadi senja kelabu dimataku.


(Dear you. Aku pernah menyesali pertemuan kita. Tapi sekarang tidak.)

Tenggelam

Tenggelam Melewati kotamu seakan melewati badai saja, hatiku tenggelam. Entah untuk alasan bahagia atau kesedihan, kotamu, tetap memabukkan....